Aku .....Aku ...
Aku memang bukan orang yang tahu segalanya.
Why ? why ? Ketika mengetahui tentang sebuah kebenaran itu rasanya sangat menyakitkan. Kebenaran dari kesalahan masa lalu. Sebuah ungkapan kebenaran dari pelaku-pelaku masa lalu.
Ternyata banyak hal (kebohongan) yang sangat jauh-jauh dari hal yang ku ketahui. Alhamdulillah, banyak referensi yang masuk. Melalui ketidak sengajan itulah yang menjadikan kebenaran itu terlihat/terungkap.
Sekarang .....
Aku .....
Aku sedang mencoba bangun dari keterpurukanku
Aku sedang mencoba tersenyum dari tangisanku
Aku sedang mencoba tegar dari rasa sakit hatiku
Aku sedang mencoba bangkit dari pengkhianatan itu
Wake Up .... Wake Up ....
Kulihat ramadhan dari kejauhan Kudekati,lalu kusapa dia Hendak kemana?dengan lembut dia berkata,aku harus pergi Mungkin jauh dan lama Tolong sampaikan pesanku pada si mukmin Syawal akan tiba sebentar lagi Ajaklah sabar untuk temani hari dukanya Peluklah istiqamah saat ia kelelahan dalam perjalanan taqwa Bersandarlah pada tawadhu’ saat kesombongan menyerang Mintalah nasehat dari Al Quran dan sunnah Dalam setiap masalah yang dihadapi Sampaikan pula salam dan trimakasihku (by Pino)
Rabu, 26 September 2012
Rabu, 19 September 2012
Habibie dan Ainun - Potret Cinta Sejati Prof. B.J. Habibie
“Ainun dan saya bernaung di bawah cinta milik-Mu ini dipatri menjadi MANUNGGAL sepanjang masa. Hanya dengan tatapan mata saja tanpa berbicara sering dapat berkomunikasi langsung dan mengerti isi hati dan kehendak kami.”
Posting kali ini saya akan coba me-review buku yang baru saja saya baca. Semoga njenengan tidak kecewa dengan tulisan saya ini, maklum baru belajar membuat resensi buku. Kritik dan saran atau pandangan lain terhadap buku ini akan sangat saya harapakan.
Kemanunggalan jiwa yang dipatri oleh cinta yang murni, sempurna, dan abadi. Itulah salah satu pesan dari buku berjudul “Habibie dan Ainun” yang akan selalu terngiang-ngiang di benak kita setelah membacanya. Membaca buku yang ditulis langsung oleh Bapak B.J.Habibie ini seolah kita diajak mengarungi catatan harian cinta seorang Bacharudin Jusuf Habibie dengan Hasri Ainun binti Besari, kekasih abadinya sepanjang masa.
Adalah tepat kiranya bagi Pak Habibie menulis buku ini dengan tujuan salah satunya untuk terapi mengobati kerinduan dan kehilangan istri tercintanya, Ibu Ainun Habibie. Terapi kerinduan dari kehilangan seseorang yang selama 48 tahun 10 hari mendampingi hidup putra Pare-pare ini. Goresan kenangan tentang cinta tulus dan bakti Ibu Ainun inilah yang sanggup mengisi kekosongan jiwa Pak Habibie saat masa awal beliau merasa kehilangan.
Kisah cinta Ainun dan Habibie berawal dari pertemuan di Rangga Malela 11B, rumah kediaman keluarga Besari–keluarga besar Ainun–tinggal. Habibie, seorang insinyur yang baru pulang dari Jerman bertemu kembali dengan Ainun, kawan SMA-nya, seorang dokter lulusan FK UI setelah 7 tahun tak pernah jumpa. Perjumpaan secara tidak sengaja itu membawa Habibie muda terlarut dalam kerinduan pandangan mata indah Ainun yang akan selalu dikenangnya. Pandangan mata pada 7 Maret 1962 yang akan menjadi saksi cinta abadi sepasang insan manusia.
Kedua insan yang dipertemukan oleh cinta dari Allah itupun kemudian menikah. Alur kisah pun bergulir tentang cinta dan pengabdian seorang Ainun kepada suaminya. Cinta dan pengabdian Ainun adalah manifestasi ke-MANUNGGGAL-an jiwa, hati, dan batin Ainun dan Habibie. Dengan cinta dan pengabdian itulah yang membuatnya tetap setia mendampingi Habibie. Kesetiaan yang tetap dijaga Ainun walaupun saat menjadi seorang istri seorang asisten peneliti, pejabat teras perusahaan Jerman MBB, bahkan ketika menjadi Ibu Negara sekalipun. Cinta Ainun kepada Habibie tetap sama tulus tak berubah sepanjang waktu. Cintanya dari hati dan jiwa yang manunggal, yang memberi ketenangan kepada Habibie untuk terus menjaga idealismenya membangun negeri pertiwi. Cintanya tetap hidup walau Ainun dan Habibie terpisah dua dunia yang berbeda.
Cukup banyak kita temukan kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun di dalam buku ini yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Buku ini menarik untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui atau memahami kehidupan seorang insinyur hebat bernama BJ Habibie dari sudut pandang yang berbeda. Selain itu, di dalamnya juga banyak di dominasi oleh kisah kesetiaan Ibu Ainun sebagai seorang istri hingga akhir hayat dari sudut pandang suaminya. Pembaca juga tak hanya dapat menikmati kisah cinta kedua pasangan abadi itu saja, di buku ini juga terselip beberapa puisi dan doa seorang Habibie kepada istrinya.
Keseluruhan kisah di dalam buku setebal 335 halaman ini menurut penulisnya sengaja disajikan mirip novel agar enak dibaca oleh pembacanya. Walaupun demikian, dari awal hingga akhir membacanya saya merasa masih belum bisa menikmati buku ini layaknya kisah sebuah novel. Entah kenapa, saya masih merasa karya Pak Habibie ini lebih pantas saya apresiasikan sebagai sebuah biografi ketimbang novel. Jalan cerita yang terlalu datar dan minimnya metafora,yang menurut saya adalah bumbu rahasia setiap novel, membuat saya hampir bosan membaca hingga di tengah buku. Tidak hanya bosan, kadang saat membaca buku ini saya merasa kurang nyaman manakala ada beberapa kata yang salah edit dan beberapa cerita terkesan diulang-ulang dalam beberapa bab.
Pada awalnya, saya sangat penasaran dengan isi buku ini. Di kota Jogja sendiri saya hampir saja kehabisan buku ini karena ludes terjual hingga bulan Desember 2010 lalu. Siapapun akan mengira, buku ini akan mengisahkan untold story kehidupan pasangan Prof. Habibie dan dr. Ainun. Siapapun juga pasti pernah mengetahui kesetiaan seorang Habibie untuk terus menunggui makam almarhumah istrinya selama 40 hari yang sempat menjadi topik hangat media beberapa waktu lalu. Mungkin inilah yang menurut saya menjadi salah satu pemicu larisnya buku ini di pasaran. Namun saya agak sedikit kecewa setelah membaca keseluruhan kisah di buku ini. Harapan saya untuk mendapatkan kisah kemanunggalan cinta Habibie dan Ainun kurang terobati. Menurut saya, rasanya kebanyakan cerita nyata buku ini lebih mengekspos kehidupan Pak Habibie sendiri dengan bumbu kisah cinta dan pengabdian Ibu Ainun. Gregetnya baru terasa saat detik-detik wafatnya Ibu Ainun. Di bagian akhir buku itulah baru saya rasakan cinta dan sayang Habibie dan Ainun yang membuncah. Cinta yang tumpah-ruah dan sanggup menumpahkan air mata haru.
Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, buku ini setidaknya layak mendapat apresiasi lebih dari seluruh penikmat buku, apalagi dari pengagum sosok Habibie karena iktikad baik beliau untuk membagi kisah cinta pribadinya kepada khalayak umum. Saya rasa pembaca juga patut untuk mengapresiasi keberanian beliau untuk menuangkan kisahnya dalam bentuk novel. Suatu peristiwa yang mungkin agak langka bagi seorang profesor engineering sekelas Habibie. Dibalik itu semua buku ini memberikan ilham dan keteladanan bagi para pencari resep spiritual bagi bangunan rumah tangga sakinah. Itulah inti dari pesan dan keteladanan berharga yang dapat kita serap dari buku ini. Selamat membaca!
Sumber
Posted by: dhieliem
Posted by: dhieliem
Jumat, 31 Agustus 2012
~ R E ( N U N G ) A N ~
MAKNA DARI AKAD NIKAH
Bismillah ...
Ketika suatu saat dirimu akan menikah dengan seorang, ataupun saat kau sudah terikat dalam sebuah pernikahan. Tentunya pernikahan itu melewati proses AKAD-NIKAH bukan?
Yang intinya berbunyi :
"Aku terima nikahnya si dia binti ayah si dia dengan mas kawinnya ..... "
Singkat, padat dan jelas. Tapi tahukah makna 'Perjanjian/Ikrar' tersebut?
Ini diaaaa -->
''maka aku tanggung dosa2nya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yg telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yg berhubungan dgn si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yg menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak2ku''.
Jika Aku GAGAL ?
"Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku". (HR. Muslim)
Duhai para istri,,
Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu, karena saat Ijab terucap, Arsy_Nya berguncang karena beratnya perjanjian yg di buat oleh manusia di depan RABB nya, dgn di saksikan para malaikat dan manusia, maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.
.
Renungilah biar kita semua tau betapa besarnya pengorbanan dan tanggung jawab/beban sang ayah, atau laki-laki !!
Dan bagi laki2 yg belum berbuat demikian krn tdk/blm mengetahui arti ikrarnya, inilah saatnya utk memperbaiki diri......
LOVE U Bapak .... Semoga Allah menaikkan derajatmu ^_^
Kata Bapak :
"Rivalmu adalah Bapakmu ini, bukan orang lain"
(Rivalku bukan orang lain. Tetapi Bapak Ibu-lah RIVALku. Mereka yang menjadikanku seperti saat ini, yang selalu membimbingku. Mungkinkah aku bisa mengalahkan Bapak-Ibu dalam mendidik anak2ku kelak?)
.
Renungilah biar kita semua tau betapa besarnya pengorbanan dan tanggung jawab/beban sang ayah, atau laki-laki !!
Dan bagi laki2 yg belum berbuat demikian krn tdk/blm mengetahui arti ikrarnya, inilah saatnya utk memperbaiki diri......
LOVE U Bapak .... Semoga Allah menaikkan derajatmu ^_^
Kata Bapak :
"Rivalmu adalah Bapakmu ini, bukan orang lain"
(Rivalku bukan orang lain. Tetapi Bapak Ibu-lah RIVALku. Mereka yang menjadikanku seperti saat ini, yang selalu membimbingku. Mungkinkah aku bisa mengalahkan Bapak-Ibu dalam mendidik anak2ku kelak?)
Rabu, 01 Agustus 2012
Kemasan Masa Lalu _ tak harus dihapus
Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang
kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu
Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini
seperti hari kemarin, aku hanya bisa membisu
coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan
kepadamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah
merasuki tulang-tulang tuamu.
Adakah aku akan melihat orang tuaku
sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu
yang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku
yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar,
mungkin hendak berteman dengan air matamu
-------------- *** ----------------
Wajah manis duduk di kursi merah tadi malam
Menikmati penantian dalam kesendirian dan kebimbangan.
Mencari jawaban yang masih tertinggal di antara realitas.
Mungkinkah hal ini akan mengubah segalanya?
Wujudkan impian dalam khayal.
Bilakah dermaga hidup terlabuhi.
Menukar sunyi dalam kegaduhan.
Menghadirkan keriangan dalam keramaian.
Menjadikan senandung cinta dari pencinta
Lebih bermakna...
Tarian waktu yang tak terhenti.
Berkuasa membawa diri pada masa dan ruang kepastian.
Musim semi itu akhirnya terjemput.
Pijar-pijar bahagia bergelayut di taman sang pencinta.
Menyesakan dada hingga tak mampu berkata
Ikrar suci yang terlantun.
Semoga dari hati yang tulus
Menikmati penantian dalam kesendirian dan kebimbangan.
Mencari jawaban yang masih tertinggal di antara realitas.
Mungkinkah hal ini akan mengubah segalanya?
Wujudkan impian dalam khayal.
Bilakah dermaga hidup terlabuhi.
Menukar sunyi dalam kegaduhan.
Menghadirkan keriangan dalam keramaian.
Menjadikan senandung cinta dari pencinta
Lebih bermakna...
Tarian waktu yang tak terhenti.
Berkuasa membawa diri pada masa dan ruang kepastian.
Musim semi itu akhirnya terjemput.
Pijar-pijar bahagia bergelayut di taman sang pencinta.
Menyesakan dada hingga tak mampu berkata
Ikrar suci yang terlantun.
Semoga dari hati yang tulus
(ng dalam la-ro-se)
______________ *** _______________
Cinta ada,
selalu menjaga…
berkorban,
saling melengkapi,
dan membuatnya berharga
Maka,selalu menjaga…
berkorban,
saling melengkapi,
dan membuatnya berharga
selalu Jagalah Cinta,
yang tanpa kita sadari…
selalu ada berdiri di samping kita,
di sekitar kita,
bersama kita,
____________ *** ____________
Masjid lama ini memutarkan kembali memori-memori yang telah banyak terlepas dari otakku
yang terjejali dengan kesibukan dunia.
merasakan sejukknya kasih sayang yang tiada diminta
udara keimanan yang masih menempel dalam dada
kemana aku selama ini
yang tidak bisa merasakan manisnya anugerah terbesar ini
malangnya Nasib hamba ini.
melakukan sebuah ritual yang ternyata masih dalam taraf penggugur kewajiban saja
hufff,,, manusia ini hanya kembali ketika diri mulai putus asa,, betapa hina nya diri ini. kembli disaat membutuhkan
MArgorahayu dalam kepenatan dunia, masih menerima kehadiran setiap manusia yang hendak kembali.
tahutan adzan menyeruak memanggil jiwa-jiwa yang sudah terbaiat.
baiklah sabda Mu telah menenangkan hatiku bahwa Engkau Tidak akan merubah nasib Kecuali dia sendiri yang merubahnya.
aku ingin berubah, menjadi hambamu yang selalu menghadirkan nama-namaMu dalm setiap Lisan,perbuatan dan langkah, karena kini ku yakin bahwa Engkaulah yang hanya bisa menawarkan setiap racun dan penyakit dalam hidupku.
yang terjejali dengan kesibukan dunia.
merasakan sejukknya kasih sayang yang tiada diminta
udara keimanan yang masih menempel dalam dada
kemana aku selama ini
yang tidak bisa merasakan manisnya anugerah terbesar ini
malangnya Nasib hamba ini.
melakukan sebuah ritual yang ternyata masih dalam taraf penggugur kewajiban saja
hufff,,, manusia ini hanya kembali ketika diri mulai putus asa,, betapa hina nya diri ini. kembli disaat membutuhkan
MArgorahayu dalam kepenatan dunia, masih menerima kehadiran setiap manusia yang hendak kembali.
tahutan adzan menyeruak memanggil jiwa-jiwa yang sudah terbaiat.
baiklah sabda Mu telah menenangkan hatiku bahwa Engkau Tidak akan merubah nasib Kecuali dia sendiri yang merubahnya.
aku ingin berubah, menjadi hambamu yang selalu menghadirkan nama-namaMu dalm setiap Lisan,perbuatan dan langkah, karena kini ku yakin bahwa Engkaulah yang hanya bisa menawarkan setiap racun dan penyakit dalam hidupku.
Kamis, 14 Juli 2011
- te Amo -
-yaa Rahman,
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna,
namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna.
sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu.
seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya.
seseorang yang membutuhkanku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
yaa Rahim,
Aku juga meminta...
buatlahaku menjadi seseorang yang dapat membuatnya bangga.
berikanaku hati yang sungguh mencintai-Mu,
sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaQ.
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna,
namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna.
sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu.
seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya.
seseorang yang membutuhkanku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
yaa Rahim,
Aku juga meminta...
buatlahaku menjadi seseorang yang dapat membuatnya bangga.
berikanaku hati yang sungguh mencintai-Mu,
sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaQ.
Kamis, 24 Maret 2011
A L O N E
Huh.huh.huh...
(-_-) merasakan sendirian yang teramat. Diri ini seperti terhimpit di lorong bawah tanah yang sangat pengap tanpa ada cahaya sedikitpun. Sumpek,,lembab,,tak berpenghuni.
Tekanan demi tekanan terus b'barengan. Bi2r ini terus bisa tertawa. Tpi, batin ini menangis miris meratapi kehimpitan batin ini. Diri ini sedang masa trapi menghadapi tekanan.
Sial. Tekanan itu smakin bersemangat menggerogoti pikiran dan batinku. Payah..payah...
Hidupku tidak selalu halus seperti jalan Tol. Bodoh sekali jika kamu tidak punya masalah. Masalahmu mengajarkan banyak hal. Masalahmulah yang membawa dirimu sampai sekarang.
Kamu tahu?? Kamu tahu apa? Kamu tidak tahu apa2.
Terlalu banyak kekuranganmu menghadapi masalah. Masih terlalu sedikit garam yang kamu makan. Kamu masih perlu belajar.
Masalah kerja, masalah orang tua,, masalah..dan masalah. Mereka sudah faham. Mereka sudah fasih.
Kamu hebat,,kamu adalah kamu. Kamu bukan mereka. Tunjukan siapa dirimu. Jadilah dirimu kapanpun dimanapun. Kamu tetaplah kamu. Semua orang yakin kamu BISA. Figting
(-_-) merasakan sendirian yang teramat. Diri ini seperti terhimpit di lorong bawah tanah yang sangat pengap tanpa ada cahaya sedikitpun. Sumpek,,lembab,,tak berpenghuni.
Tekanan demi tekanan terus b'barengan. Bi2r ini terus bisa tertawa. Tpi, batin ini menangis miris meratapi kehimpitan batin ini. Diri ini sedang masa trapi menghadapi tekanan.
Sial. Tekanan itu smakin bersemangat menggerogoti pikiran dan batinku. Payah..payah...
Hidupku tidak selalu halus seperti jalan Tol. Bodoh sekali jika kamu tidak punya masalah. Masalahmu mengajarkan banyak hal. Masalahmulah yang membawa dirimu sampai sekarang.
Kamu tahu?? Kamu tahu apa? Kamu tidak tahu apa2.
Terlalu banyak kekuranganmu menghadapi masalah. Masih terlalu sedikit garam yang kamu makan. Kamu masih perlu belajar.
Masalah kerja, masalah orang tua,, masalah..dan masalah. Mereka sudah faham. Mereka sudah fasih.
Kamu hebat,,kamu adalah kamu. Kamu bukan mereka. Tunjukan siapa dirimu. Jadilah dirimu kapanpun dimanapun. Kamu tetaplah kamu. Semua orang yakin kamu BISA. Figting
Selasa, 01 Maret 2011
Tawadhu' dan Izzah (Akhlaq)
Rasulullah SAW bersabda: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat 'izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).Tawadhu' adalah lawan dari takabur. Tawadhu' adalah melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dan dihadapan hamba-hamba Allah. Sedangkan takabur artinya sombong, congkak, atau merasa dirinya lebih dari yang lain. Ketakaburan yang paling tinggi adalah manakala seseorang sudah merasa lebih tinggi daripada Allah SWT, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Fir'aun (Pharaoh). Fir'aun mengaku dirinya adalah tuhan yang harus disembah. Fir'aun membuat undang-undang yang semua orang harus mentaatinya dan mengabaikan Undang-Undang Allah SWT. Fir'aun merasa dirinya raja yang harus ditaati melebihi ketaatan kepada Allah. Pendek kata, dengan kesombongannya Fir'aun mengaku dirinya lebih dari Allah SWT.Iblis, Fir'aun dan penghuni-penghuni neraka lainnya dicampakkan ke dalam neraka semata-mata berawal dari sifat takabur dalam diri mereka.Firman Allah SWT: "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!" maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan dia termasuk orang-orang yang kafir." (QS.Al-Baqarah : 34).Dan apabila dikatakan kepadanya: ""Bertaqwalah kepada Allah!" bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya." (QS.Al-Baqarah : 206).Demikian bahayanya sifat takabur ini, oleh karena itu seorang mukmin harus mengubur dalam-dalam sifat takabur, dan menumbuhsuburkan sifat tawadhu'. Apalagi bagi para da'i yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu' mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya.Firman Allah SWT:"....dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS.Asy-Syu'araa : 215).Al-Fudhali bin 'Iyadh berkata: Tawadhu' ialah senantiasa berorientasi pada kebenaran dan siap menerima kebenaran tanpa melihat siapa yang berbicara. Sedangkan Abdullah bin Hasan Al-Anshary berkata: Aku lebih suka menjadi ekor dalam kebenaran daripada menjadi kepala dalam kebatilan. Sementara Ibnu Atha' mengatakan: Tawadhu' adalah menerima kebenaran dari siapapun datangnya, dan 'izzah (kemuliaan) itu ada di dalam tawadhu'.
Kedudukan Tawadhu'1. Tawadhu' adalah salah satu sifat dari sifat Hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang ('Ibadur-Rahman).Firman Allah SWT: Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tawadhu') dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS.Al-Furqan : 63).Demikianlah, diantara sifat-sifat 'Ibadur-rahman Allah SWT meletakkan sifat tawadhu' sebagai sifat yang pertama yang harus dimiliki. Hal ini menunjukkan penting dan mendasarnya sifat tawadhu' ini bagi seorang Mukmin.Rasulullah SAW sebagai teladan hidup (al-qudwah) mukmin adalah pribadi yang sangat tawadhu'. Beliau biasa memperbaiki sendiri baju atau terompahnya yang rusak, membantu keluarganya berbelanja ke pasar, senantiasa memulai mengucapkan salam setiap bertemu dengan sahabat-sahabatnya, menghadiri undangan, tidak pernah menghina makanan, dan masih banyak contoh ketawadhu'an beliau, Nabiyullah Muhammad SAW.Diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada khalifah Umar bin Abdul Azis. Waktu itu beliau sedang menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata: "Biarlah saya yang memperbaiki lampu itu, ya Amirul Mu'minin." Beliau menjawab: "Ah jangan, tidak baik seseorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan akhlaq yang mulia." Tamu itu kemudian berkata lagi: "Kalau begitu, biarlah saya bangunkan pelayan saja." Beliau menjawab: "Ah jangan, ia baru saja tidur, agaknya sejak tadi belum merasakan kelezatan bantalnya." Selanjutnya beliau sendiri membetulkan lampunya, maka tamu itu berkata lagi: "Mengapa anda sendiri yang membetulkan lampu itu, ya Amirul Mu'minin?" Beliau ra. menjawab: "Mengapa tidak, kalau saya pergi saya pun tetap Umar, kalau saya kembali sayapun tetap Umar. Tidak berkurang sesuatupun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar."Demikian contoh para shalafus shalih sebagai pribadi yang mencerminkan sifat-sifat 'Ibadur-Rahman'.2. Orang yang tawadhu' akan dicintai Allah SWT. Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamaNya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun cinta kepada Allah, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin." (QS.Al-Maidah : 54).Di dalam ayat ini, Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai Allah SWT, dan mereka pun cinta kepada Allah, kemudian dilanjutkan dengan salah satu ciri-ciri mereka adalah mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin. Sifat lemah lembut ini akan bersemayam di dalam kepribadian seorang mukmin, manakala ada sifat tawadhu' di dalam dirinya.3. Tawadhu' menjadi sebab berpautnya hati.Firman Allah SWT: ...."dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali-Imran : 103).Pada masa jahiliyah, perang antara kabilah (suku) merupakan kejadian rutin di seluruh jazirah Arab, baik di Makkah maupun di Madinah. Tujuan peperangan itu tidak lain semata-mata untuk menunjukkan kesombongan rasa kesukuan mereka, bahwa suku merekalah yang paling kuat, paling mulia dan sebagainya. Contoh paling jelas adalah perang antara suku Aus dan Khazraj yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.Akan tetapi, setelah cahaya Islam menyinari hati mereka, maka hati mereka menjadi lembut, dan hancurlah kesombongan mereka berganti dengan sifat tawadhu', yang tumbuh dan berkembang dalam hati mereka. Oleh karena itulah, Allah berkenan mempersatukan hati mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang bersaudara.Firman Allah:"...dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.Al-Anfal : 63).4.Tawadhu' menjadi masuknya seseorang ke dalam surga. Di dalam suatu riwayat: Abdullah bin Mas'ud berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak akan masuk surga, siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong walau hanya seberat dzarrah." Maka seorang sahabat bertanya: "Adakalanya seseorang itu suka berpakaian bagus." Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya Allah Indah dan suka keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang. (HR Muslim).Allah SWT telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang di dalam hatinya masih bersemayam sifat sombong walau hanya seberat dzarrah, dan sebaliknya mempersiapkan surga untuk dihuni oleh hamba-hambaNya yang tawadhu'.5. Tawadhu' adalah perintah Allah dan RasulNya.Firman Allah SWT: "Rendahkanlah sayapmu (sikapmu) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. Asy-Syu-araa : 215 dan Al-Hijr : 88).'Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu'lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya. (HR Muslim).
Klasifikasi Tawadhu' dan tanda-tandanya.At-Tawadhu' dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis tawadhu' yaitu:1. Tawadhu' kepada Allah SWT. Tawadhu' kepada Allah SWT artinya merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Allah SWT diantaranya:a. Merasa kecil/sedikit dalam taat kepada Allah, artinya seseorang yang tawadhu' kepada Allah SWT itu merasa bahwa dalam ketaatannya, ibadahnya kepada Allah masih sangat sedikit kecil dibandingkan dengan dosa yang telah dilakukan.b. Merasa besar/banyak dalam maksiat, artinya seseorang tawadhu' kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukannya sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.c. Melambungkan pujian kepada Allah SWT dan tidak kepada diri sendiri.d. Tidak menuntut hak kepada Allah, tetapi berorientasi kepada amal yang harus dilakukan.2. Tawadhu' kepada Dienullah (al-Islam). Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Dienullah diantaranya:a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam.b. Tidak mengontradiksikan al-Islam baik dalam perkataan, perasaan, pemikiran dan perbuatan.3. Tawadhu' kepada Rasulullah SAW. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Rasulullah SAW diantaranya:a. Mengutamakan petunjuk Rasulullah SAW di atas manusia lainnya.b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau SAW.c. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan hidupnya.4. Tawadhu' kepada sesama mukmin. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada mukmin yang lain diantaranya:a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari mukmin yang lain.b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.c. Siap membantu mukmin yang lain.d. Bermusyawarah dengan mukmin yang lain.e. Senantiasa bersangka baik (huznuzhan) kepada mukmin yang lain.
Hubungan Tawadhu' dengan 'Izzah (Kemuliaan)Orang yang tawadhu' kepada Allah SWT kepada Dienullah (Islam), kepada Rasulullah SAW dan kepada sesama mukmin adalah orang-orang yang akan mendapatkan 'Izzah (kemuliaan) di sisi Allah SWT.Firman Allah SWT: "....Padahal 'Izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya, dan bagi orang-orang mukmin. (QS.Al-Munfiqun : 8).Sabda Rasulullah SAW: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah kepada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' karena Allah melainkan dimuliakan oleh Allah (HR. Muslim).Dari ayat dan hadits di atas, makin jelaslah bahwa kemuliaan itu tidak ditentukan oleh harta yang dimiliki, jabatan dan pangkat yang tinggi, ataupun darah keturunan bangsawan, dan perhiasan-perhiasan dunia lainnya. Akan tetapi 'izzah seseorang akan sangat tergantung kepada sifat tawadhu' yang ada pada pribadi seorang mukmin.Sahabat-sahabat Rasulullah SAW, adalah pribadi yang sangat tawadhu' dan memiliki 'izzah yang tinggi. Sekalipun sebagian besar adalah orang-orang yang miskin, bekas-bekas budak dan kaum dhu'afa, namun mereka memiliki 'izzah yang tinggi.Menutup tulisan ini, marilah kita lihat kembali sebuah episode sejarah yang menunjukkan 'izzah kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.Saat itu, dua pasukan besar berhadap-hadapan, 40.000 tentara kaum muslimin dan 20.000 tentara Persia. Panglima Rustum duduk di atas singgasana yang berkilau-kilau bertatahkan emas dan permata, dikelilingi pengawalnya yang tertunduk di hadapan Sang Panglima. Karpet tebal terhampar di hadapan Sang Panglima. Mereka sedang menunggu utusan kaum muslimin untuk mengadakan perundingan.Tidak lama kemudian, datanglah Rubaya bin Amir utusan kaum muslimin dengan kudanya. Baju, kuda dan sepatunya biasa-biasa saja, sangat sederhana. Rubaya bin Amir dengan tenangnya melangkah di hadapan Sang Panglima sambil menggiring kudanya di atas karpet sampai di hadapan Panglima Rustum. Hal ini membuat gaduh pengawal Rustum, karena geramnya. Setelah suasana reda, dengan tenang Rubaya menyampaikan sikap kaum muslimin: "Kami datang membawa misi Ilahi untuk membebaskan manusia kepada menyembah Allah, dari alam kecil ke alam besar, dan kekejaman Majusi kepada keadilan Islam. Dan Allah mengutus kami dengan agamaNya untuk mengajak manusia kepadaNya. Siapa saja yang menerima seruan kami, kami akan menerimanya dengan baik. Kemudian kami akan kembali dan meninggalkan bumi mereka, lalu kami akan serahkan tongkat estafet dakwah itu kepada mereka untuk melanjutkannya. Akan tetapi jika ada yang menolak seruan kami, kami tidak akan berhenti berperang menghadapi mereka sampai batas yang dijanjikan Allah.Inilah 'izzah kaum muslimin pada saat itu, ke mana larinya 'izzah itu sekarang? Wallahu a'lam bish-Shawab.
Kedudukan Tawadhu'1. Tawadhu' adalah salah satu sifat dari sifat Hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang ('Ibadur-Rahman).Firman Allah SWT: Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tawadhu') dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. (QS.Al-Furqan : 63).Demikianlah, diantara sifat-sifat 'Ibadur-rahman Allah SWT meletakkan sifat tawadhu' sebagai sifat yang pertama yang harus dimiliki. Hal ini menunjukkan penting dan mendasarnya sifat tawadhu' ini bagi seorang Mukmin.Rasulullah SAW sebagai teladan hidup (al-qudwah) mukmin adalah pribadi yang sangat tawadhu'. Beliau biasa memperbaiki sendiri baju atau terompahnya yang rusak, membantu keluarganya berbelanja ke pasar, senantiasa memulai mengucapkan salam setiap bertemu dengan sahabat-sahabatnya, menghadiri undangan, tidak pernah menghina makanan, dan masih banyak contoh ketawadhu'an beliau, Nabiyullah Muhammad SAW.Diceritakan bahwa pada suatu malam datanglah seorang tamu kepada khalifah Umar bin Abdul Azis. Waktu itu beliau sedang menulis. Lampunya hampir saja padam. Tamu itu kemudian berkata: "Biarlah saya yang memperbaiki lampu itu, ya Amirul Mu'minin." Beliau menjawab: "Ah jangan, tidak baik seseorang menganggap tamunya sebagai pelayan. Itu bukan akhlaq yang mulia." Tamu itu kemudian berkata lagi: "Kalau begitu, biarlah saya bangunkan pelayan saja." Beliau menjawab: "Ah jangan, ia baru saja tidur, agaknya sejak tadi belum merasakan kelezatan bantalnya." Selanjutnya beliau sendiri membetulkan lampunya, maka tamu itu berkata lagi: "Mengapa anda sendiri yang membetulkan lampu itu, ya Amirul Mu'minin?" Beliau ra. menjawab: "Mengapa tidak, kalau saya pergi saya pun tetap Umar, kalau saya kembali sayapun tetap Umar. Tidak berkurang sesuatupun dari diriku dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan? Selamanya saya tetap Umar."Demikian contoh para shalafus shalih sebagai pribadi yang mencerminkan sifat-sifat 'Ibadur-Rahman'.2. Orang yang tawadhu' akan dicintai Allah SWT. Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamaNya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun cinta kepada Allah, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin." (QS.Al-Maidah : 54).Di dalam ayat ini, Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai Allah SWT, dan mereka pun cinta kepada Allah, kemudian dilanjutkan dengan salah satu ciri-ciri mereka adalah mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin. Sifat lemah lembut ini akan bersemayam di dalam kepribadian seorang mukmin, manakala ada sifat tawadhu' di dalam dirinya.3. Tawadhu' menjadi sebab berpautnya hati.Firman Allah SWT: ...."dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali-Imran : 103).Pada masa jahiliyah, perang antara kabilah (suku) merupakan kejadian rutin di seluruh jazirah Arab, baik di Makkah maupun di Madinah. Tujuan peperangan itu tidak lain semata-mata untuk menunjukkan kesombongan rasa kesukuan mereka, bahwa suku merekalah yang paling kuat, paling mulia dan sebagainya. Contoh paling jelas adalah perang antara suku Aus dan Khazraj yang sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.Akan tetapi, setelah cahaya Islam menyinari hati mereka, maka hati mereka menjadi lembut, dan hancurlah kesombongan mereka berganti dengan sifat tawadhu', yang tumbuh dan berkembang dalam hati mereka. Oleh karena itulah, Allah berkenan mempersatukan hati mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang bersaudara.Firman Allah:"...dan (Allah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi ini, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.Al-Anfal : 63).4.Tawadhu' menjadi masuknya seseorang ke dalam surga. Di dalam suatu riwayat: Abdullah bin Mas'ud berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak akan masuk surga, siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong walau hanya seberat dzarrah." Maka seorang sahabat bertanya: "Adakalanya seseorang itu suka berpakaian bagus." Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya Allah Indah dan suka keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang. (HR Muslim).Allah SWT telah mengharamkan surga bagi orang-orang yang di dalam hatinya masih bersemayam sifat sombong walau hanya seberat dzarrah, dan sebaliknya mempersiapkan surga untuk dihuni oleh hamba-hambaNya yang tawadhu'.5. Tawadhu' adalah perintah Allah dan RasulNya.Firman Allah SWT: "Rendahkanlah sayapmu (sikapmu) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. Asy-Syu-araa : 215 dan Al-Hijr : 88).'Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu'lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya. (HR Muslim).
Klasifikasi Tawadhu' dan tanda-tandanya.At-Tawadhu' dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis tawadhu' yaitu:1. Tawadhu' kepada Allah SWT. Tawadhu' kepada Allah SWT artinya merendahkan diri di hadapan Allah SWT. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Allah SWT diantaranya:a. Merasa kecil/sedikit dalam taat kepada Allah, artinya seseorang yang tawadhu' kepada Allah SWT itu merasa bahwa dalam ketaatannya, ibadahnya kepada Allah masih sangat sedikit kecil dibandingkan dengan dosa yang telah dilakukan.b. Merasa besar/banyak dalam maksiat, artinya seseorang tawadhu' kepada Allah SWT, merasa bahwa dosa/maksiat yang telah dilakukannya sangat besar/banyak dibandingkan dengan amalnya.c. Melambungkan pujian kepada Allah SWT dan tidak kepada diri sendiri.d. Tidak menuntut hak kepada Allah, tetapi berorientasi kepada amal yang harus dilakukan.2. Tawadhu' kepada Dienullah (al-Islam). Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Dienullah diantaranya:a. Tunduk dan patuh kepada aturan-aturan, perintah-perintah dan larangan-larangan di dalam agama Islam.b. Tidak mengontradiksikan al-Islam baik dalam perkataan, perasaan, pemikiran dan perbuatan.3. Tawadhu' kepada Rasulullah SAW. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada Rasulullah SAW diantaranya:a. Mengutamakan petunjuk Rasulullah SAW di atas manusia lainnya.b. Mencintai, mentaati, dan mengikuti setiap perkataan dan perbuatan beliau SAW.c. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan hidupnya.4. Tawadhu' kepada sesama mukmin. Tanda-tanda orang yang tawadhu' kepada mukmin yang lain diantaranya:a. Menerima nasehat/saran kebenaran dari mukmin yang lain.b. Senantiasa melihat kelebihan-kelebihan saudaranya, dan berusaha menutupi kekurangan-kekurangannya.c. Siap membantu mukmin yang lain.d. Bermusyawarah dengan mukmin yang lain.e. Senantiasa bersangka baik (huznuzhan) kepada mukmin yang lain.
Hubungan Tawadhu' dengan 'Izzah (Kemuliaan)Orang yang tawadhu' kepada Allah SWT kepada Dienullah (Islam), kepada Rasulullah SAW dan kepada sesama mukmin adalah orang-orang yang akan mendapatkan 'Izzah (kemuliaan) di sisi Allah SWT.Firman Allah SWT: "....Padahal 'Izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya, dan bagi orang-orang mukmin. (QS.Al-Munfiqun : 8).Sabda Rasulullah SAW: "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah kepada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu' karena Allah melainkan dimuliakan oleh Allah (HR. Muslim).Dari ayat dan hadits di atas, makin jelaslah bahwa kemuliaan itu tidak ditentukan oleh harta yang dimiliki, jabatan dan pangkat yang tinggi, ataupun darah keturunan bangsawan, dan perhiasan-perhiasan dunia lainnya. Akan tetapi 'izzah seseorang akan sangat tergantung kepada sifat tawadhu' yang ada pada pribadi seorang mukmin.Sahabat-sahabat Rasulullah SAW, adalah pribadi yang sangat tawadhu' dan memiliki 'izzah yang tinggi. Sekalipun sebagian besar adalah orang-orang yang miskin, bekas-bekas budak dan kaum dhu'afa, namun mereka memiliki 'izzah yang tinggi.Menutup tulisan ini, marilah kita lihat kembali sebuah episode sejarah yang menunjukkan 'izzah kaum muslimin di hadapan orang-orang kafir.Saat itu, dua pasukan besar berhadap-hadapan, 40.000 tentara kaum muslimin dan 20.000 tentara Persia. Panglima Rustum duduk di atas singgasana yang berkilau-kilau bertatahkan emas dan permata, dikelilingi pengawalnya yang tertunduk di hadapan Sang Panglima. Karpet tebal terhampar di hadapan Sang Panglima. Mereka sedang menunggu utusan kaum muslimin untuk mengadakan perundingan.Tidak lama kemudian, datanglah Rubaya bin Amir utusan kaum muslimin dengan kudanya. Baju, kuda dan sepatunya biasa-biasa saja, sangat sederhana. Rubaya bin Amir dengan tenangnya melangkah di hadapan Sang Panglima sambil menggiring kudanya di atas karpet sampai di hadapan Panglima Rustum. Hal ini membuat gaduh pengawal Rustum, karena geramnya. Setelah suasana reda, dengan tenang Rubaya menyampaikan sikap kaum muslimin: "Kami datang membawa misi Ilahi untuk membebaskan manusia kepada menyembah Allah, dari alam kecil ke alam besar, dan kekejaman Majusi kepada keadilan Islam. Dan Allah mengutus kami dengan agamaNya untuk mengajak manusia kepadaNya. Siapa saja yang menerima seruan kami, kami akan menerimanya dengan baik. Kemudian kami akan kembali dan meninggalkan bumi mereka, lalu kami akan serahkan tongkat estafet dakwah itu kepada mereka untuk melanjutkannya. Akan tetapi jika ada yang menolak seruan kami, kami tidak akan berhenti berperang menghadapi mereka sampai batas yang dijanjikan Allah.Inilah 'izzah kaum muslimin pada saat itu, ke mana larinya 'izzah itu sekarang? Wallahu a'lam bish-Shawab.
http://cahayamuslim.blogspot.com/2007/07/tawadhu-dan-izzah-akhlaq.html
Langganan:
Postingan (Atom)

